10 August 2009

Menulis ke Mana-mana

Mbah Surip tidak bohong: bangun tidur, tidur lagi, bangun tidur, tidur lagi, banguuuuuuuuuuuun, tidur lagi!

Saya, hari ini, adalah lagu itu. Edan! 8 jam lebih dihabiskan hanya untuk tidur? Kata orang, saya termasuk golongan orang yang rugi, yang menyia-menyiakankan waktu. Bukankah 8 jam itu saya bisa berproduksi? Bukankah 8 jam itu saya seharusnya ada di kantor mengerjakan tugas dari bos?

Lalu di mana tanggung jawab saya, lalu ke mana disiplin itu?

Hari ini, saya termasuk orang yang menjadi budak waktu. Saya seperti tak kuasa menjadi tuan bagi waktu saya sendiri. Waktu yang seharusnya bisa ditentukan dan dikendalikan, serta dikontrol. Inilah yang disebut sebagai disiplin. Dalam disiplin waktu sama dengan tempat, harus apa, dan bagaimana. Pada kasus saya waktu sama dengan lalai dan tidak untuk apa-apa., serta sedikit untuk kenapa?

Tapi hidup beserta waktu di dalamnya, barangkali, seperti kata Rendra, "tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh". Lagi pula waktu yang bisa ditentukan dan dikendalikan tadi tak bisa ditarik ulang ke belakang. Jika demikian, Anda dan saya sepenuhnya tak bisa mengontrol waktu secara utuh.

Namun bukan itu persoalannya. Persoalan yang lebih mendasar adalah rutinitas. Baca lagi syair lagu "tidur lagi" punya mbah Surip itu. Tidur menjadi rutinitas yang berulang-ulang. Lagu itu sedang mengejek saya. Lagu itu juga mungkin sedang mengejek orang-orang maha sibuk! Waktu, dalam lagu itu, begitu dinikmati meskipun tak berproduksi. Lagu itu sama sekali tak menemukan titik temu dengan garis kerja keras. Tapi bisa menemukan titik yang pas, semacam g-spot, yang bisa untuk menggeliat dan mengaduh nikmat.

Sudahlah, hidup bukan untuk mengeluh dan tidak untuk terus melamun. Hidup adalah menulis, berpikir dan bertindak, menyatukan diri dalam kata, alam, dan hentakan jemari di tiap tut-tut keyboard. Dengan demikian barangkali waktu bisa digendong ke mana-mana. Ini mungkin lebih enak to, lebih manteb to, dari pada terus berkeluh dan berkesah.

"Hayo mau ke mana?" menulis ke mana-mana, Mbah!

Selanjutnya....

26 July 2009

Kesaksian Nasir Abas



"Cobalah kamu buat buku, Kenapa Harus Curiga Pada Islam". Kalimat itu terlontar dari seorang profesor kepada saya ketika itu. Saya belum mengiyakannya, tapi juga tidak bilang tidak.


Saya sadar diri, saya belum cukup ilmu untuk menuliskannya. Saya awam pada Islam. Alih-alih membuat buku tentang Islam, yang terjadi justru saya menebar benih kebencian. Saya sadar, agama masih menjadi isu sensitif di negeri ini.

Kalimat yang profesor tadi, kembali hadir di ingatan seminggu setelah ledakan bom JW Marriot 17 Juli lalu. Saya penasaran pada Jamaah Islamiyah yang kerap disebut media, yang disinyalir sebagai pelaku ledakan. Benarkah? saya tidak tahu, serta gegabah meng-iya-kannya.

Saya baca lembar demi lembar buku yang saya temukan di rak buku seorang kawan. Judulnya Membongkar Jamaah Islamiyah, Nasir Abas penulisnya. Bagi saya buku ini penting, sebab ditulis oleh orang yang benar-benar terlibat dalam Jamaah Islamiyah. Dalam ilmu sejarah buku ini termasuk sumber primer: ditulis oleh pelaku sejarah.

Menariknya lagi Nasir Abas memberikan keterangan cukup berimbang. Ia menyampaikan hal ihwal Jamaah Islamiyah dari yang ia tahu. Ia sendiri tak mau menuliskan apa yang dia tidak tahu tentang Al Jamaah Al Islamiyah. Pendek kata, ia tak mau berasumsi tanpa bukti.

Nasir Abas membeberkan pengalamannya selama di Afghanistan hingga keterlibatannya di Mindanau, Filipina. Nasir Abas juga menyatakan kritiknya kepada Imam Samudra, rekan sejawatnya. Ia mengatakan bahwa Imam Saumdera telah melakukan tindakan berlebihan dengan ledakan bom yang dilakukannya. (lebih jelas lihat baca bab 7 dan 8 buku ini).

Saya kira buku ini memberikan gambaran mengenai Jamaah Islamiyah yang seringkali menjadi "kambing hitam" dalam ledakan bom yang terjadi di Indonesia. Membaca buku ini makin meyakinkan saya, kenapa harus curiga pada Islam?

Saudara, sudahkah membaca buku ini?

resensi mengenai buku tersebut dapat dibaca di sini.

Selanjutnya....

22 July 2009

e-book


"E-book ngga laris di sini (Indonesia)" kata Komandan sore itu sebelum pandangannya tertuju pada jalanan Jakarta.

Saya belum puas dengan jawabannya. Kepala masih thuing-thuing, apa sebab e-book belum atau tidak laris di Indonesia?

Kebetulan di Facebook tiba-tiba seorang teman yang mantan juragan buku dan kini memilih jadi penulis buku kreatif muncul--(kalimat ini bertele-tele kah?).

Melalui fasilitas chating saya langsung tembak dia dengan pertanyaan, "Apa sebab di Indonesia e-book ga laris?"
"Masyarakat kita ini masih riil, membeli sesuatu masih harus ada barangnya," jawabnya.

Obrolan tak berlanjut, sebab akses internet tiba-tiba nge-drop. Tinggalah saya masih dengan rasa penasaran.

dari hasil obrolan singkat itu saya mencoba menyimpulkan bahwa tidak serta merta para pembaca buku beralih ke e-book. Mereka masih bersikukuh untuk tidak meninggalkan kebiasaan mereka membeli buku dengan cara konvensional. Datang ke toko buku, lapak-lapak buku, memilah-milah dan lantas membelinya. Membawanya ke rumah, jika sempat membacanya, jika tidak di tata di rak buku, di baca sewaktu-waktu.

Toh tak ada yang salah dari kebiasaan macam itu.

Tapi ketahuilah di sini, di negeri-nya Mbah Surip, tetap saja menyisakan sesuatu yang timpang. Dalam industri buku, penulis seperti anak tiri. Kecuali mereka, penulis yang bernasib mujur macam Andrea Hirata atau Habiburahman el Shiraizy yang mendapatkan royalti cukup menghidupi 3 turunan. Tapi bagaimana dengan nasib mereka, para penulis buku yang karyanya tidak dihargai? Menagih royalti saja seolah dianggap tukang palak? Dan mereka hanya dapat 10% dari penjualan buku. Lebih lagi, penerbit sering "nakal" dengan tak memberikan data valid mengenai jumlah buku yang dicetak atau terjual.

Kenapa pula saya memikirkan mereka para penulis yang belum beruntung ini? Nasib, kata teman, adalah kesunyian masing-masing. Kata Seno Gumira, kalau mau jadi penulis sejati tak usah memikirkan royalti. Lantas apa kaitan semua ini, e-book, penulis, royalti, dan industri buku?

Saudara, apakah Anda punya jawabannya?

Selanjutnya....

19 July 2009

Poeze, buku, dan Sejarah

"Leiden mebuat buku sejarah dengan segudang data, Cornell membuat buku sejarah dengan permainan bahasa". Kalimat ini saya jiplak dari obrolan kecil dengan seorang karib, yang Mba'-nya lagi "nyantri" di Leiden.

Jika saya teruskan jiplakan obrolan itu akan menghasilkan kalimat seperti ini, "Kata Mba saya, orang-orang di Leiden menyebut orang Cornell itu sukanya bikin, his story." Saya manggut-manggut. Baik Leiden maupun Cornell saya tahu, tapi belum pernah ke sana sehingga saya tidak bisa mengecek kebenaran atas pernyataan itu. Hari ini saya baru mengenal Cornell dan Leiden dari buku sejarah.

Kebetulan, buku yang paling dekat dengan keyboard tempat saya menulis adalah buku Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, Harry A. Poeze punya.



Poeze, kita tahu saudara-saudara, 36 tahun hidupnya ia berikan untuk meneliti Tan Malaka. Hasilnya, ia menjadi alamat bagi siapapun yang menelusuri Tan. Poeze bukan jebolan Leiden, ia jebolan Jurusan Sejarah Amsterdam Universiteit. Universitas ini, kata karib saya lagi, jauh lebih lengkap datanya tentang Indonesia ketimbang Leiden.

Buku Poeze kali ini tidak jauh berbeda dengan buku tentang Tan Malaka dari sisi kelengkapan data dan informasi. Saya tak mungkin merangkum satu persatu "orang Indonesia" yang pergi ke negeri penjajah, sebagaimana disebutkan dalam buku ini. Terlalu banyak tokoh yang disebutkan. Saya akan sebutkan beberapa, Abdul Rivai yang mengelola Bintang Hindia, koran dengan tampilan lux di awal abad 20, Noto Soeroto, penyair sekaligus politikus, Soewardi Soerjaningrat, simbahnya tokoh PKI, Semaoen, sedikit tentang Marco Kartodikromo, orang-orang PI, dan masih banyak lagi.

Ngapaian saja mereka di negeri penjajah? Itulah yang dibahas dalam buku ini. Saya sengaja untuk tidak merangkum apa saja yang dilakukan orang Indonesia ketika di negeri Belanda. Saya memilih untuk menelisik, pilihan tema, judul, dan pesan yang dipakai Poeze dan kawan-kawan dalam buku yang diterbitkan juragan buku Indonesia, KPG ini.

Pertama, buku ini dibagi menjadi 3 bab. Bab 1 sumbangan dari Cees Van Dijk, dengan pembabagan waktu 100-1898 dengan sub judul Utusan Budak, Seorang Pelukis, dan Beberapa Siswa. Bab II, tulisan Poeze, dengan pembabagan waktu 1898-1945. Terakhir, sumbangan dari Inge van der Meulen, 1945-1949 dengan judul bab, Berangsur Menjauh.

Pembabagan waktu ini sama saja dengan sebuah pesan, "Ini tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, bahwa Belanda mengantarkan orang Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan." Bila dilanjutkan, "Kami sadar bahwa sebelum politik etis, 1600-1898, kami sempat berlaku sebagaimana umumnya penjajah, "memperbudak"".

Lantas, "Kami penjajah ini akhirnya memilih politik etis. Lihat betapa banyak orang-orang Indonesia yang kami cerdaskan, dari Abdul Rivai hingga Hatta. Mereka-lah yang pernah ke negeri penjajah yang benar-benar merintis kemerdekaan itu"

Terakhir, "Semenjak kalian (Indonesia) merdeka, hubungan itu makin menjauh. Kalian seperti kacang lupa pada kulitnya."

Kedua dari judul, Di Negeri Penjajah, Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950. Ada beberapa kata kunci, negeri, penjajah, orang Indonesia, dan Belanda. Bagi saya judul ini mengundang untuk berdiskusi. Apalagi jika membaca pengantar di halaman x paragraf 4 kolom 1:

"Judul In het land van de overheerser (Di Negeri Penjajah) ini sungguh tepat untuk keseluruhan buku ini. Kata 'overheeser (penjajah) yang kini negatif dan mencekam itu sampai awal abad ke-20 punya arti lain. Pada waktu itu istilah itu menggambarkan hubungan kolonial yang memang berlaku, dalam makna netral, oleh karena itu dipergunakan juga orang Indonesia sendiri, seperti tersebut di banyak tempat dalam buku ini."

Saya tidak tersinggung dengan kata "penjajah" ini. Sebab ini kenyataan historis bahwa pada awal abad 20 itu konteksnya ada yang menjajah dan ada yang dijajah, kulit putih yang menjajah dan kulit berwarna yang dijajah. Perkara macam ini, politik rasialisme, telah dibicarakan Frantz Fanon pada 1952 melalui Black Skin with Masks tahun sebelum buku ini terbit. Juga Orientalisme yang didedah Edward Said pada 1978--8 tahun sebelum buku ini pertama kali diterbitkan di Belanda. Artinya buku itu ditulis ketika dunia sedang berwacana mengenai relasi kekuasaan dengan kanal-kanal yang beraneka rupa.

Di Indonesia buku ini hadir pada 2009--23 tahun lebih lambat. Inilah perkaranya, ketika buku lama dikaitkan dengan konteks kekinian. Kini bagi para apatis ke-sejarah-an, agaknya, menjadi sesuatu yang usang ketika bicara tentang penjajah dan yang dijajah. Ini mendedah luka lama bagi para nasionalis, dan merangsang keprihatinan bagi kalangan humanis. Dunia tanpa batas nation, bagi orang seperti itu tak hirau lagi pada yang dijajah dan yang menjajah. Bagi nasionalis, ini akan terus menabalkan nasionalisme yang pada akhirnya jika terus berlanjut menjadi chauvinis, fanatis. Fanatisme inilah yang dicemaskan para humanis sebab mereka tak ingin ada perang baru baik fisik maupun sekadar diskursus.




Pada sisi lain pemilihan kata " orang Indonesia" bisa didiskusikan ulang. (Pak) Poeze dan kawan-kawan tentu tahu bahwa awal abad 20, Indonesia sebagai negara belum ada ketika itu. Kenapa tidak sekalian saja menyebut penduduk Hindia Belanda, atau bumiputera, atau bahkan pribumi?

Saya rasa penting untuk menerbitkan buku dengan pengubahan judul yang disesuaikan dengan konteks jaman. Itulah, saya pikir, fungsi penting dari tahut terbit sebuah buku. Sebab dari tahun terbit itulah bisa diraba kepentingan, ideologi, dan semangat penulis pada pilihan tema yang dipilih. Dan buku ini menjadi canggung ketika di satu sisi ingin humanis--dengan bercerita sisi-sisi lain tokoh-tokoh perintis Indonesia, di sisi lain masih menganggap penting nasionalisme (penjajah)--dengan pilihan kata "penjajah" dan "Indonesia".

Akhirul kalam, hadirnya buku ini menjadi satu referensial penting bagi khasanah perbukuan (sejarah) Indonesia, meski pun harus dengan pembacaan yang kritis tidak terpukau dengan ribuan data dan informasi di dalamnya. Semoga saja kita di negeri yang dulu dijajah tidak seperti para penonton wayang di kampung yang mlongo dengan kehebatan sang dalang berturur. Kita bukan sedang membaca ceritanya Pak Poeze melainkan sedang misuh-misuh sebab literatur penting di negeri sendiri susah dicari.

Sudahkan Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya membaca buku ini?

Selanjutnya....

18 July 2009

Rumah

Hari ini, barangkali, Gusti Allah sedang bersabda melalui Ndoro Kakung. Setelah berkunjung ke tetangga jauh di Amerika dan mampir di The Onion sebentar, pulang lagi ke Indonesia singgah di Tempe Ramen, menulis pesan di sana. Pergi lagi ke rumah mbah dukun google bertanya sama dia, ""blog ilmiah" mbah?", ""blog referensial" mbah?". Saya tunggu jawabannya sembari menikmati rokok, memainkan facebook, dan membaca koran, detik. Bukan jawaban mbah google yang salah. Tapi saya malah semakin jauh dari apa yang saya cari: saya ingin melucu, satire, saya ingin yang ilmiah. Akhirnya saya tanya lagi pada mbah yang satu ini, "Ndoro Kakung".

Saya baca postingannya, tentang GNFI, Freeport, dan Gravatar, ketiga judul itu berakhiran pecas ndahe. Tiba-tiba saya diingatkannya, "Pulanglah".
"Njih Ndoro," jawab saya dalam hati.

Saya putuskan pulang. 3 detik kemudian saya sampai di rumah, rumah yang lama saya tinggalkan.
Rumah saya sendiri yang sekian lama tak dimasuki. Memang, saya beberapa kali melihatnya, tapi tak pernah memasukinya. Saya seperti seorang yang asing melihat rumahnya sendiri. Meskipun sebenarnya ada kerinduan yang tak tersampaikan, yang terpendam diam-diam.

Hari ini, ketika saya masuk di dalamnya, banyak debu di sana-sini. Ada beberapa genting yang tampaknya diambil orang, dengan meninggalkan pesan di atasnya. Ada beberapa orang yang sepertinya pernah mampir.

Akhirnya saya bersihkan bagian yang nampak berdebu, terutama pada tagline dari "resensi buku-buku sejarah", saya lap dan saya ganti dengan warna baru, "saya, buku, dan sejarah". Bagi saya ini lebih personal, saya bisa lebih lega untuk bergerak ke sana kemari, tanpa harus kehilangan siapa saya. Tanpa harus terpenjara dengan kata "resensi buku sejarah" tanpa harus terus dikejar pertanyaan "loh katanya buku kuno, kok buku baru?".


Saya akan teruskan untuk membenahi rumah ini agar tetap layak dan menyenangkan untuk dihuni. Barangkali juga nyaman buat mereka yang sekedar ingin mampir ngombe atau nunut ngeyup.

Terima kasih Ndoro.






Selanjutnya....

22 July 2008

Riwayat Kweekschool Kita


Riwayat pendidikan bagi guru di tanah Indonesia terjadi secara evolusioner. Hanya saja perubahan-perubahan tersebut belum menemukan satu visi yang konkret. Perubahan-perubahan nama, sistem dan segala tetek bengek-nya seperti sebuah perayaan atas zaman. Sementara itu pendidikan guru di Indonesia seperti kehilangan daya magisnya sebagai pelahir guru-guru yang benar-benar paham pendidikan di Indonesia. Sepertinya calon guru hanya untuk mengincar status sosial, jabatan, dan lowongan tanpa ada dedikasi untuk benar-benar menjadi guru yang baik, yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan tetapik juga memotivasi, memerdekakan, memanusiakan, serta membuat kreatif anak didiknya.

Berawal dari Eropa. Masyarakat kuno dan pertengahan Eropa menganggap bahwa institusi pendidikan kurang memberikan petunjuk prinsip praktik mengajar. Pendek kata, seseorang yang ingin menjadi pengajar hanya diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dari subjek mata pelajaran yang ingin mereka ajarkan. Selama zaman Renaisance Eropa beberapa guru seperti Vittorino de Feltre di Italia, Johannes Sturm di Jerman dan Jhon Colet di Inggris mendapatkan pengakuan luas untuk pembelajaran dan kemampuan mengajar mereka, tetapi pelatihan guru sedikit mendapatkan perhatian. Hal ini tidak berlangsung hingga penerapan prinsip demokrasi selam abad 17 hingga 18dengan masukan mereka yaitu bahwa perkembangan ekonomi, sosial dan politik negara bangsa dapat diperoleh melalui pendidikan masyarakat individual, yang ukuran-ukurannya diambil dari pendirian insitusi-institusi yang memberikan pelatihan kepada pengajar.

Institusi pendidikan yang pertama kali diketahui menawarkan program yang sistematik pendidikan pengajar adalah the Institute of the Brothers of the Christian Schools yang didirikan pada 1685 di Reims, Perancis oleh pendeta John Baptist de la Salle. Pada abad 18 institusi serupa didirikan di Perancis dan Jerman. Pada 1794 sekolah yang didukung oleh pemerintah Perancis tersebut adalah sekolah pertama yang mengikuti prinsip filsuf Jean Jacques Rousseau. Roesseau mempercayai bahwa pendidik seharusnya berkonsentrasi terutama dengan perkembangan mental dan fisik pelajar dan materi belajar harus berada pada posisi kedua setelahnya. Prinsip ini kemudian diadopsi oleh sekolah pelatihan guru di seluruh dunia dan menjadi doktrin dasar seluruh teori pendidikan. Dari banyak pengajar yang mengaplikasikan dan mengembangkan teori kependidikan Rosseau, yang paling penting adalah Johann Heinrich Pestalozzi yaitu pembaharu pendidikan Swiss pada akhir abad ke 18.
Kemajuan penting dalam teori dan metode pelatihan guru dibuat di Prussia awal abad 19 dengan menerapkan pandangan pendidik Johann Fiedrich Herbart. Dia menekankan studi tentang proses psikologi pembelajaran sebagai alat untuk merencanakan program pendidikan berdasarkan bakat, kecerdasan, dan ketertarikan siswa. Kesuksesan metode Herbart membuat banyak orang mengadopsinya dalam sistem kursus guru di pelbagai negara.
Pengaruh pendidikan Eropa ini berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Nusantara. VOC, sebagai kongsi dagang Belanda yang merambah wilayah Nusantara merupakan pembawa pengaruh pendidikan ala Eropa tersebut. Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu.
Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang.[1]
Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise.
Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 18885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).[2]
Pada abad ke-20, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan, pendidikan guru mengalami perkembangan sehingga terdapat tiga jenis sekolah guru, yait: 1). Normaalschool adalah sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa daerah dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun; 2) Kweekschool adalah sekolah guru dengan lama belajar empat tahun dan menerima lulusan sekolah dsara berbahasa Belanda. 3). Hollandsch Inlandsch Kweekschool (HIK) yaitu sekolah guru yang menggunakan pengantar bahasa Belanda dengan masa pendidikan enam tahun dan bertujuan menghasilkan guru HIS/HCS.[3]

Pendidikan Guru oleh Swasta
Selain juga dari pemerintah Kolonial para pribumi juga mendirikan sekolah. Seperti dapat diketahui dari Organisasi Muhammadiyah yang didiririkan K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini menitikberatkan pula dalam bidang pendidikan dan pengajaran K.H. Ahmad Dahlan mengadakan pembaruan dalam mengelola pendidikan sekolah-sekolah yang dibangunnya. Sekolah-sekolah itu disesuikan dengan kebutuhan masyarakat, dan disesuaikan pula dengan sekolah-sekolah yang dibangun Belanda seperti HIS, Kweekscool, AMS, dan MULO.[4]

Gerakan serupa mucul pada 7 Juni 1924. Taman Siswa cabang Mataram (Yogyakarta) membuka bagian MULO-Kweekschool (Taman Guru) dengan lama belajar empat tahun sesudah tamat Taman Muda (SD) atau setingkat. Maksud dibukanya bagian ini adalah untuk menghasilkan guru bagi kepentingan Taman Siswa sendiri. Pelaksanaan Taman Guru pada tahun ketiga dilakukan terpisah, yaitu bagian Taman Dewasa demham lama belajar tiga tahun setelah tamat Taman Muda (SD) dan bagaian Taman Guru yang lama belajarnya satu tahun setamat Taman Dewasa.[5]
Pesatnya perkembangan dan kemajuan Perguruan Taman Siswa nampaknya telah mengancam kepentingan Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mencegah meliuasnya pengaruh Taman Siswa di kalangan Masyarakat demham mengeluarkan berbagai aturan dan tindakan. Pada tahun itu juga, Taman Siswa dikenakan pajak rumah tangga. Ki Hadjar Dewantara yang dengan keluarganya hanya menempati dua kamr di tengah-tengah bangunan Taman Siswa, tentu saja menolak kewajiban membayar pajak tersebut.
Pada 1932, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Ordonansi sekolah Liar. Taman Siswa masuk jerat ini. Ki Hadjar protes kepad pemerintah. Partai politik turut mendukung protes tersebut dan memperjuangkanya di Volksraad. Begitu juga dengan surat-surat kabar saat itu. Akhirnya pada 1935, setelah dua tahun mengalami proses alot, ordonansi sekolah liar dihapuskan.[6]

Masa Jepang
Ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Pendidikan diarahkan untuk kepentingan praktis bagai Jepang. Untuk mendidik guru terdapat tiga jenis sekolah guru, yaitu 1) Sekolah Guru Dua Tahun Syoto Sihan Gakko) 2) sekolah guru empat tahun (Guto Sihan Gakko), 3) Sekolah guru enam tahun (Koto Sihan Gakko).[7] Namun sebenarnya hanya sekolah guru pemerintah yang dibuka kembali, sekolah guru swasta tetap ditutup.[8]

Pada zaman Jepang pendidikan merosot dengan drastis dibandingkan dengan keadaan pada zaman Belanda. Sekolah rakyat menurun jumlahnya dari 21.500 menjadi 13.500, sekolah menengah turun dari 850 menjadi 20. demikian pula dengan jumlah murid, murid sekolah rakyat menurun 30%, murid sekolah menengah merosot sebesar 90%. Jumlah guru sekolah rakyat menurun 35% dan guru sekolah menengah merosot 95%.[9]

Orde Lama- Masa Orde Baru
Jepang hengkang, Indonesia merdeka. Dasar sistem pendidikan pun mulai digagas. Maka pada awal republik berdiri sistem pendidikan meliputi pendidikan rendah, pendidikan guru, pendidikan umum, pendidikan kejuruan, dan pendidikan tinggi. Pendidikan guru adalah sekolah yang diadakan untuk menghasilkan guru. Jenis pendidikan guru adalah sekolah Guru B (SGB), Sekolah Guru C (SGC) dan Sekolah Guru A (SGA). Lama pendidikan SGB adalah empat tahun dan dimaksudkan untuk mendidik guru SR. murid yang diterima lulusan SR yang lulus dalam ujian masuk ke sekolah lanjutan. SGA menerima lulusan SMP.

Sehubungan dengan kebutuhan guru SR yang mendesak, dibuka sekolah guru yang dalam waktu singkat dapat menghasilkan guru. Untuk itu didirikan sekolah guru dua tahun setelah SR dam disebut SGC. Namun, keberadan SGC dirasakan kurang bermanfaat sehingga SGC ditutup dan sebagaian dijadikan SGB. Oleh karena adanya anggapan bahwa sekolah guru empat tahun belum dapat menjamin pengetrahuan dan kemampuan yang cukup sebagai guru, amka dibuka SGA yang memberi pendidikan tiga tahun sesudah SMP dan juga dapat menerima murid dari lulusan tingakt III SGB.[10] Selain itu ada sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) yang lama belajarnya empat tahun setelah SMP atau SKP.

Sejalan dengan pengadaan guru untuk tingkat pendidikan rendag, Kementerian pendidikan, pengajaran dan Kebudayaan juga mengadakan usaha penambahan guru untuk tingkat pendndikan menegah. Pendidikan guru untuk SLTP dan SLTA dilakukan dengan melalui kursus-kursus yang lamanya dua tahun. Kursus-kursus yang diadakan yaitu kursus Bahasa jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Bumi, dan Ilmu Pasti. Di antara kursus-kursus tersebut, hanya kurus Ilmu Pasti yang belum menghasilkan guru karena pecahnya aksi militer Belanda II 1948.[11]

Oleh karena itu presiden mengeluarkan Kepres No 1 Tahun 1963, tertanggal 3 Januari 1963 yang memutuskan untuk menggabungkan FKIP dasn IPG menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Sebagai pelaksanaan Keppres tersebut keluar SK Menteri Pendidikan PTIP No. 55 tahun 1963 tertanggal 22 Mei 1963 yang menetapkan berdirinya IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Tujuannnya adalah untuk memenuhi kualitas dan kuantitas guru di Indonesia.[12]

Sepeninggal Orde Lama, Orde baru di bawah pemerintahan Soeharto mulai menata pendidikan guru di Indonesia. Ada dua langkah dasar yang ditempuh pemerintah Orba dalam meningkatkan kualitas guru. Langkah tersebut antara lain; 1) menyeragamkan jenjang pendidikan dari semua jenis pendidikan guru pra-jabatan, dari sistem yang merupakan gabungan antara jenjang pendidikan menengah dan jenjang perguruan tinggi menjadi sistem yang bersifat strata tunggal, yaitu semua pendidikan guru guru pra-jabatan diselenggarakan pada jenjang perguruan tinggi. 2) Menentukan semua pendidikan guru pra-jabatan dikelola oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.[13] Dengan kebijakan tersebut maka pendidikan Sekolah Guru B, Sekolah Guru A, dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ditiadakan. Pelbagai pelatihan dan penataran untuk meningkatkan kualitas guru juga dilakukan pemerintah Orba. Proyek peningkatan kualitas guru tersebut dilaksanakan di IKIP, Fakultas Keguruan, BPG, dan SGPLB.[14]
Dua tahun sebelum reformasi, 1996, terjadi perubahan signifikan dalam tubuh pendidikan keguruan di Indonesia. Wacana untuk mengubah IKIP menjadi universitas mulai bergulir. Direktorat Pendidikan Tinggi akhirnya mengeluarkan Surat Keputusan No 1449/D/T/1996 tertanggal 20 Juni 1996 bahwa IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang diubah menjadi universitas. Hal ini menyebabkan IKKIP-IKIP tersebut membukan jurusan dan prodi non-kependidikan sebagai konsekuesi atas perubahan ke arah universitas. Maka pada 1998/1999 di saat reformasi bergulir IKIP-IKIP tersebut berubah menjadi universitas, termasuk IKIP Yogyakarta yang berubah menjadi Universitas Negeri Yogyakarta pada 4 Agustus 1999.




Sumber Pustaka:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Pendidikan dari Jaman ke Jaman. Jakarta: BP3K.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdikbud.

H. Najamudin. 2005. Perjalanan Pendidikan di Tanah Air. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Mochtar Buchori, 2007. Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998. Yogyakarta: Insist Press.

Sismono La Ode Dkk. 2006. Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph.D. Di Belantara Pendidikan Bermoral. Yogyakarta: UNY Press.

[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdikbud, hlm. 20-21.

[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid, hlm. 20-21.

[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid, hlm. 30.

[4] H. Najamudin. 2005. Perjalanan Pendidikan di Tanah Air. Jakarta: PT. Rineka Cipta., hlm. 61.
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Op.cit, hlm. 42.

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ibid., hlm. 43.

[7] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid., hlm. 38.

[8] Mochtar Buchori, 2007. Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998. Yogyakarta: Insist Press., hlm. 25.

[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Op.cit, hlm. 38.

[10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ibid, hlm. 77.


[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ibid,, hlm. 90.

[12] Sismono La Ode Dkk. 2006. Biografi Pemikiran dan Kepemimpinan Prof. Suyanto, Ph.D. Di Belantara Pendidikan Bermoral. Yogyakarta: UNY Press., hlm. 281.

[13] Mochtar Buchori, op.cit. hlm. 136.

[14] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Pendidikan dari Jaman ke Jaman. Jakarta: BP3k. hlm. 204.

Selanjutnya....

30 June 2008

Sketsa Pemikiran Ibn Khaldun


Ibn Khladun adalah perkecualian dari dunia pemikiran Arab. Di saat dunia pemikiran Arab mengalami kemandegan, Ibn Khaldun justru muncul dengan pemikirannya yang cemerlang. Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun (1332-1406), seorang sejarawan besar Islam pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunis (sekarang Tunisia). Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi SAW.

Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira militer yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan Ibn Khaldun muda banyak belajar dari mereka.

Selain menggemari dunia pengetahuan, Ibn Khaldun juga terlibat dalam dunia politik. Ia pernah menjabat Shabib al’Allamah (penyimpan tanda tangan) pada pemerintahan Abu Muhammad ibn Tafrakin di Tunis. Ketika ia menduduki jabatan tersebut usianya baru menginjak 20 tahun. Situasi politik yang tidak menentu membuat Ibn Khaldun berpindah-pindah pekerjaan. Situasi politik tersebut juga mempengaruhi karir hidupnya. Ketika ia menjabat sebagai sekretaris Kesultanan di Fez maroko, ia menerima tudingan Abu Inan sebagai komplotan politik yang hendak menyerang Sultan. Khaldun akhirnya masuk penjara selama 21 bulan gara-gara tudingan tersebut.

Ibn Khaldun pernah diadili di tempat yang sekarang disebut Tunisia, Algeria, Maroko, dan di Granada, Spanyol dan telah dua kali dipenjara. Pada 1375 dia diasingkan di dekat Frenda, Algeria, empat tahun untuk menyelesaikan karya monumentalnya, al-Mukaddimah. Isi pengantarnya Kitab al-Ibar (Sejarah Universal). Pada 1382, di kota suci Mekkah, dia ditawari oleh Sultan kairo untuk menjadi rektor di universitas Islam terkemuka, Universitas Al Azhar, dia juga ditunjuk sebagai hakim (qadi) Syekh Maliki Islam. Pada 1400 dia menemani pengganti sultan ke Damaskus dalam ekspedisi menahan serangan invasi Turki, Tamerlane (Timur Lenk). Ibn Khaldun menghabiskan beberapa minggu sebagai tamu agung Tamerlene sebelum kembali ke Cairo, di sana ia meninggal pada 17 Maret 1406.

Kitab al-Ibar adalah sebuah panduan berharga bagi sejarah Muslim Afrika Utara. Namun demikian, keenam jilid lain pamornya kalah dengan Muqaddimah. Di dalamnya, Ibn Khaldun menggarisbawahi sejarah dan ilmu sosial bahwa ada kesinambungan antara abad kuno dan pertengahan dan sangat mencerminkan sosiologi modern. Masyarakat, ia percaya, disatukan oleh kekuatan kesatuan sosial yang dapat ditingkatkan oleh kesatuan beragama. Perubahan sosial dan dinamika masyarakat mengikuti hukum empiris ditemukan dan merefeleksikan aktivitas dan iklim ekonomi yang sejalan dengan realitas.

Sejarawan Arab yang hidup pada abad 14 ini telah memulai penulisan yang berkenaan dengan antopologi. Khaldun melakukan studi penting tentang faktor sosiologi, psikologi, dan faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan, perkembangan, dan jatuhnya peradaban. Baik Khaldun maupun Herodotus menghasilkan keilmunamn yang obyektif, analitik, penggambaran etnografi keragaman kebudayaan di dunia Mediteranian, tetapi mereka juga terkadang menggunakan informasi dari sumber kedua.

Selama abad pertengahan (abad 5- 15) ahli injil mendominasi pemikiran Eropa. Para pemikir Eropa masih berkutat pada pencarian hakikat manusia, yakni sekitar pertanyaan asal manusia dan perkembangan kultural. Mereka menjawab pertanyaan ini dengan jawaban masalah kepercayaan religius dan mengajukan ide bahwa keberadaan manusia dan semua perbedaan manusia adalah ciptaan Tuhan. Jawaban tersebut sangat teologis meskipun sudah ada keterbukaan berpikkir dibandingkan dengan masa gelap Eropa. Sebagaimana diketahui pemikiran teologi Gereja mendominasi Eropa abad gelap.

Sisi lain yang mempengaruhi pemikiran Eropa adalah buah eksplorasi mereka ke dunia Timur. Mulai akhi abad 14, penjelajah Eropa mencari kekayaan di tanah baru yang memberikan gambaran gambling tentang kebudayaan eksotis yang mereka temui pada perjalanan mereka di Asia, Afrika, dan tanah yang kita sebut sebagai Amerika. Tetapi penjelajah-penjelajah ini tidak memahami bahasa-bahasa di mana mereka datang dan mereka membuat penelitian singkat dan sistematis.

Pada abad 14 Ibn Khaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara luar biasa luas mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang tidak biasa dari Ibn Khaldun yang menyusun teori umum untuk perhitungan perkembangan politik dan social sosial selama berabad-abad. Dia adalah seorang sejarawan muslim satu-satunya yang menyarankan alasan sosial dan ekonomi bagi perubahan sejarah, meskipun dibaca dan dikopi pekerjaannya, tetap tak mengahasilkan pengaruh yang efektif hingga mendorong pemikiran Barat yang baru diperkenalkan pada abad 19.

Hampir semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam al-muqadddimah. Al-muqaddimah merupakan pengantar dalam karya monumentalnya al-Ibar wa Diwan al-Mubtada al-Khabar fi Ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-barbar wa Man ‘Asarahum min Dzawi as-Sultan al-Akbar (“Kitab Contoh-contoh Rekaman tentang Asal-usul dan Peristiwa Hari-hari Arab, Persi, Berber, dan Orang-orang yang Sezaman dengan Mereka yang Memiliki Kekuasaan Besar”) atau biasa orang menyebut, al-Ibar.

Di al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan tentang masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi, perihal watak manusia, seperti keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan, tentang revolusi, dan pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada kelompok lain yang berakibat pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan tingkat yang bermacam-macam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun kegiatan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, serta segala perubahan yang terjadi di masyarakat.

Hal ini sejalan dengan pengertian Sejarah Universal (atau dunia) yang menginginkan pemahaman atas keseluruhan pengalaman kehidupan masa lampau manusia secara total untuk melihatnya pesan-pesan perbedaan pada pesan yang berguna bagi masa depan. Dua masalah yang mendominasi penulisan sejarah universal, pertama ketersediaan kuantitas bahan dan keberagaman bahasa di mana di dalamnya tertulis mengimplikasikan bahwa sejarah universal mengambil bentuk kerja kolektif atau menjadi sejarah tangan kedua. Kedua, prinsip dari seleksi yang dihubungkan dengan pemilihan studi untuk membentuk taksonomi sejarah yang sesuai. Unit-unit tersebut secara geografis (misal benua), periode, tahap perkembangan atau struktur, peristiwa penting, saling berhubungan (misalnya komunikasi, perjuangan bagi kekuatan dunia, atau perkembangan sistem ekonomi dunia), peradaban atau kebudayaan, kekaisaran dan negara bangsa, atau komunitas terpilih. Sejarah universal telah ditulis terutama oleh sejarawan Barat atau sejarawan dari Asia Barat termasuk Ibnu Khaldun.

Khaldun bahkan memerinci bahwa ekonomi, alam, dan agama merupakan faktor yang memengaruhi perkembangan sejarah. Meski punya pengaruh, faktor ekonomi, alam dan agama bagi Khaldun bukan satu-satunya faktor yang menentukan gerak sejarah. Ia mengatakan bahwa:
"Keadaan alam, bangsa-bangsa, adat istiadat, dan agama tidak selalu berada dalam alur yang sama. Semua berbeda sesuai dengan perbedaan hari, masa, dan perlahian dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perbedaan itu berlaku pada individu-individu, waktu, dan kota seperti halnya berlaku pada seluruh kota, masa dan negara.
Salah satu sumber kesalahan dalam penulisan sejarah adalah pengabaian terhadap perubahan yang terjadi pada zaman dan manusia sesuai dengan berjalannya masa dan perubahan waktu. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam bentuk yang tidak kentara, lama baru dapat dirasakan, sehingga sukar dilihat dan diketahui beberapa orang saja."

Pendek kata, bagi Khaldun, ekonomi, alam, dan agama merupakan kesatuan yang memengaruhi gerak sejarah.

Teori siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada adanya kesamaan sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Teori ini sebenarnya merupakan tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun sendiri sebenarnya tidak menyampaikannya secara eksplisit. Satu hal yang disampaikan Khaldun secara eksplisit adalah pemikirannya tentang sejarah kritis. Menurut Khaldun:
"Apabila demikian halnya, maka aturan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan yang terdapat dalam informasi sejarah adalah diasarkan kemungkiknan atau ketidakmungkinan...Apabila kita telah melakukan hal demikian, makia kita telah memiliki aturan yang dapat dipergunakan untuk membedakan anatara kebenaran dan kebatilan dan kejujuran dari kebohongan dalam informasi sejarah dengan cara yang logis...selanjutnya apabila kita mendengar tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi dalam peradaban, maka kita harus mengetahui apa yang patut diterima akal dan apa yang merupakan kepalsuan. Hal ini merupakan ukuran yang tepat bagi kita, yang dapat dipergunakan oleh para sejarawan untuk menemukan jalan kejujuran dan kebenaran dalam menukilkan peristiwa sejarah."

Pemikiran Khaldun tentang sejarah kritis ini merupakan satu pemikiran yang melandasi pemikiran modern orang Eropa tentang sejarah pada periode selanjutnya. Bagaimanapun Jean Bodin (1530-1596), Jean Mabilon (1632-1707), Betrhold Georg Niebur (1776-1831), hingga Leopald van Ranke (1795-1886), membaca atau tidak al-Muqadimmah, pemikirannya sejalan dengan Ibnu Khladun. Dari sini kita bisa tahu bahwa Ibnu Khaldun adalah perkecualian. Ia bukan saja pemikir yang selalu berpikir tentang hal-hal yang abstrak melainkan pemikirannya berasal dari tanah tempat di mana dia berpijak. Memahami pemikiran Ibnu Khaldun sama halnya memahami pemikiran seorang Islam yang berani mengkritik bangsanya. Terutama sekali pemikiran seorang yang sangat rasionalis namun tidak kehilangan rasa dan keimannya pada Allah SWT.

Sumber:
Ahmad Syafii Maarif. (1996)Ibn Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur. Jakarta: Gema Insani Press.

Biyanto. (2004). Teori Siklus Peradaban Perspektif Ibnu Khaldun, Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat.

Toto Suharto. (2003) Epistemologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Yapp, Malcolm. (2006). The Historiography of Universal History, Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Microsoft ® Encarta. (2006). © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Selanjutnya....

20 May 2008

Belanda Menguras Habis Kedu!!!!


Semenjak Perang Jawa berakhir pada 1830, Belanda semakin keranjingan mengeksploitasi masyarakat Kedu. Setahun setelah kekalahan Diponegoro itu, Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Den Bosch pada 1831 langsung menerapkan Tanam Paksa. Penerapan kebijakan eksplotatif ini merupakan strategi Belanda untuk mendapatkan dana setelah kas mereka habis terkuras oleh Perang Jawa. Seluruh Jawa, termasuk dataran lembar subur di antara Merapi-Sumbing-Sindoro tak luput dari eksploitasi ini.

Sebelum penerapan tanam paksa ini benar-benar dimulai, setelah perang usai, masyarakat Kedu (Magelang dan Temanggung) masih harus memperbaiki lahan pertanian mereka yang porak poranda akibat perang. Perang Diponegoro ini mengakibatkan hampirn ¾ lahan pertanian di Kedu rusak. Meski mengetahui hal ini, Belanda tetap nekat memaksa rakyat untuk menanam tanaman pangan. Kedu yang sedari Mataram Kuno merupakan penghasil beras diperas habis. Eksploitasi lain juga terjadi pada pertanian tembakau—yang merupakan komoditi utama Kedu.
Di saat bersamaan Belanda juga memberlakukan kerja wajib (rodi) bagi rakyat Kedu. Beban ini sangat memberatkan masyarakat Temanggung. Hampir seluruh tenaga tercurah untuk kerja wajib dalam bidang militer, pembuatan infrastruktur, dan pos, pekerja tanpa upah di kantor pemerintah dan rumah pejabat Belanda. Beban itu masih ditambahi dengan aturan Belanda yang mewajibkan seluruh rakyat harus menjual kopi kepada pemerintah Kolonial. Aturan ini secara resmi diberlakukan di Temanggung (Kedu) pada 1832.
Untuk mendukung perdagangan kopi dan hasil bumi lain, Belanda membuat sarana-sarana pendukung. Pada 1835, Belanda mendirikan penjanggolan (terminal) angkutan orang dan barang. Ada 11 pejanggolan yang didirikan. Seluruh pejanggolan dilengkapi 57 ekor kuda dan 295 orang kuli angkut. Stanplat ini tersebar di Temanggung dan Magelang. Dengan keberadaan pejanggolan ini semakin mudah bagi Belanda untuk melakukan distribusi barang. Tapi bagi rakyat Kedu, pejanggolan justru makin menambah beban.
Ketika pejanggolan ini didirikan, Temanggung baru saja setahun berdiri sebagai Kabupaten. Bupatinya, Raden Tumenggung Aryo Djojo Negoro, anak Raden Soemodilogo yang memimpin Temanggung sejak 1834-1848. Bupati bau ini seperti tak berdaya ketika Belanda mengerahkan seluruh tenaga rakyat Temanggung untuk membuat pelbagai sarana pendukung perdagangan. Masyarakat Temanggung saat itu tak hanya dibebani dengan kerja rodi tapi juga pajak.
Setahun berikutnya setelah pembangunan pejanggolan, pada 1836 Belanda membangun sarana pos di Kedu. Kereta pos dan juga pos dibangun di ibukota Temanggung dan Magelang. Namun, tetap saja, tenaga pengiriman pos ini mengerahkan tenaga rakyat.
Beban penerapan kerja rodi, pemungutan pajak, dan juga tanam paksa kepada masyarakat ini kian bertambah manakala pada 1845 Temanggung dilanda tifus. Kondisi fisik yang buruk akibat seluruh tenaga dikerahkan untuk kepentingan Belanda menyebabkan banyak penduduk mudah terserang penyakit. Bencana ini pun menjangkiti Temanggung dan sekitarnya selama hampir 3 tahun. Akibat wabah tifus ini menyebabkan kurang lebih 47.931 orang meninggal. Akibat bencana ini pula banyak penduduk yang meninggalkan Temanggung. (hlm. 144).
Namun mengetahui bencana ini Belanda menutup mata. Bahkan Belanda masih mengerahkan tenaga rakyat dalam pembuatan benteng Willem I di Ambarawa. Mengetahui bencana ini, pada 1847, Bupati Temanggung, Raden Tumenggung Hollan Sumodilogo terang-terangan menyatakan keberatannya atas pengerahan pekerja untuk membuat benteng di Ambarawa yang dilakukan Belanda. Keberatan ini disampaikan kepada kolonial sebab rakyat Temanggung banyak yang mati dalam pengerahan pekerjaan berat tersebut.
Belanda tetap tak peduli dengan seruan Bupati Temanggung. Belanda bahkan menambahi beban rakyat dengan pembangunan jembatan Progo. Pembangunan jembatan yang mengggunakan kayu jati ini dimulai pada 1847 dan baru selesai pada 1853. Pembangunan jembatan yang cukup lama ini dikarenakan wilayah Temanggung tak banyak menyediakan lahan jati. Untuk itu, rakyat dikerahkan untuk mengusung kayu jati di luar Temanggung yang jaraknya berkilo-kilo sampai ke tempat jembatan akan dibangun. Bersamaan dengan pembangunan jembatan Progo ini, sebagian rakyat Temanggung yang lain dilibatkan dalam pembangunan jembatan Krasak, perbatasan Kedu dan Yogyakarta.
Sedangkan di bidang pertanian, Belanda terus menggenjot hasil kopi dan hasil sawah di Temanggung. Tapi lagi-lagi Belanda berlaku curang. Belanda mengembalikan lahan tegal yang tak lagi subur kepada rakyat pada 1854. Pohon-pohon kopi yang tak lagi berbuah ditebang oleh perintah Belanda dan setelah itu lahan baru diserahkan kepada rakyat untuk ditanami bahan pangan. Curangnya lagi, Belanda tetap meminta hasil panen tanaman pangan ini.
Hasil pertanian sawah pun coba diperas hasilnya. Untuk lebih menggejot hasil sawah ini, pada 1869. Asisten Residen Kedu, I.W. van Rijk memerintahkan membuat bendungan di Kali Kuwas Temanggung dengan mengerahkan tenaga rakyat. Akibat pembuatan bendungan kali kuwas ini tenaga rakyat semakin habis terkuras. Mereka tak sanggup lagi menggarap lahan pertanian mereka. Akibatnya lahan pertanian terbengkelai. Kebijakan nekat Assisten Residen yang justru menyebabkan hasil pertanian menjadi merosot ini tidak disetujui oleh Gubernur Jendral Belanda, Pieter Meijer. Pieter Meijer akhirnya memberhentikan van Rijk dari jabatan Assisten Residen Kedu di tahun yang sama. (Djuliati Siroyo, 2000: 151)
Setahun setelah proyek gagal itu, Belanda mengalihkan pada proyek pembuatan jalan. Jalan-jalan yang menghubungkan daerah-daerah penghasil hasil bumi seperti Muntung, Kaloran, dan Parakan diperbaiki pada 1870. Pada tahun ini jalan-jalan yang sebelumnya hanya bias dilewati kuda, kemudian, diperlebar dan diperkeras dengan batu dan kerikil selebar 2 meter. Sedangkan jalan Pos--jalan patroli militer Belanda--seperti di Pingit yang menghubungkan Ambarawa dan Magelang diperlebar menjadi 6 meter.
Pembangunan jalan ini, sebenarnya, dimaksudkan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan militer Belanda. Rakyat dilibatkan penuh dalam pembuatan jalan ini. Mereka tak hanya mengambil batu dan menatanya tapi juga dilibatkan dalam pemaprasan bukit seperti yang terjadi di Pingit. Pekerjaan tersebut semakin berat karena Belanda tak menyediakan bantuan alat. Sebagai mandor pembangunan ini adalah para demang yang mereka tak terlibat sama sekali dalam kerja keras ini.
Setelah Belanda menilai pembangunan-pembangunan cukup mendukung perdangan dan militer mereka, kebijakan lebih diperlunak. Pada 1882 sebagian Kerja wajib umum dihapuskan. Rakyat tak lagi dilibatkan secara penuh dalam pembangunan. Namun mereka tetap dikenai kewajiban memelihara bangunan-bangunan tadi. Kebijakan ini semakin lunak mana kala pada 1887 seluruh kerja rodi itu dihapus. (hlm. 267- 292). Semenjak itu Belanda menyerahkan segala pekerjaan pembangunan pada perusahaan-perusahaan swasta seperti pembangunan jalur rel kereta api Yogyakarta-Magelang-Temanggung-Parakan yang dikerjakan oleh NIS ((Nederland Indische Spoorweg) pada 1905.
Meski pekerjaan rodi dihapus, pada kitaran 1890 Belanda membuat kebijakan lain dengan mengirimkan tenaga kerja ke Suriname, Negara jajahan Belanda di benua Amerika. Pada tahun ini sekitar 32.986 orang “TKI” dari Jawa dibawa ke Suriname. Temanggung pun tak luput dari pengiriman “TKI” ini. Sedikitnya 300 orang Temanggung dibawa ke Suriname untuk bekerja di perkebunan. Rata-rata tenaga kerja dari Temanggung ini perempuan, mereka membawa anak beserta keluarga mereka. Belanda menguras habis Kedu!!!!
Judul: Eksploitasi Kolonial Abad XIX, Kerja Wajib di Karisidenan Kedu 1800-1890
Pengarang: A.M. Djuliati Suroyo
Tahun Terbit: 2000

Selanjutnya....

12 December 2007

Sekali Peristiwa di Banten

Jam 2 pagi, 9 Juli 1888, Dumas, seorang juru tulis di kantor Asisten Residen Cilegon, kaget. Pintu rumahnya digedor sekelompok orang. Ia lantas bergegas membuka pintu. Tiba-tiba, empat orang menyeruak masuk sambil berteriak, “Allahu Akbar”. Beberapa saat kemudian kelewang menyambar tubuhnya. Dumas belum mati. Ia masih sempat melarikan diri dan bersembunyi di rumah tetangganya yang seorang jaksa.

Istri, anak, dan pembantu Dumas yang mendengar teriakan di pagi buta itu kaget. Mereka berusaha menyelematkan diri ke rumah Ajun Kolektor, Raden Purwadiningrat, melalui pintu belakang rumah. Tapi di luar, sekelompok orang itu bersiaga. Rumah Dumas terkepung. Sekelompok orang itu memergoki istri, anak, dan pembantu Dumas yang hendak melarikan diri. Istri Dumas yang dikira pembantu oleh sekelompok orang itu dibabat klewang di bahu kanannya. Ia masih dibiarkan hidup.

Tapi sial menimpa Minah, pembantu Dumas, ia justru dikira istri Dumas. Sekelompok orang itu meminta Minah untuk menyerahkan anak Dumas yang digendongnya. Minah menolak. Ia bersikukuh melindungi anak itu. Sekelompok orang itu habis kesabaran. Mereka menyabetkan klewang ke tubuh Minah yang berusaha melindungi anak Dumas. Meski begitu anak Dumas tetap saja kena bacokan klewang, dan tubuh minah jadi bulan-bulanan klewang.

Jaksa dan Ajun Kolektor terkejut mendengar teriakan istri Dumas yang minta tolong. Mereka lantas berjingkat keluar rumah dengan menghunus pedang. Jaksa melihat Dumas yang melarikan diri. Ia lantas menyembunyikan Dumas di dalam rumah. Sementara Ajun Kolektor mendapati Istri dan anak Dumas dan lantas menyembunyikan ibu dan anak itu di dalam rumahnya.

Sambil terus berteriak sekelompok orang itu mencari Dumas ke rumah jaksa. Rumah Jaksa dikepung. Mereka berteriak pada jaksa untuk menyerahkan Dumas. Tapi tak ada jawaban dari dalam rumah. Sekelompok orang itu lantas menusuk-nusukkan tombak ke dinding bambu dan mengedor-gedor pintu. Mereka seperti mau mendobrak rumah itu. Tapi berangsur-angsur suara teriakan itu makin menghilang. Sekelompok orang itu meninggalkan rumah jaksa.

***
Matahari 9 Juli 1888 baru saja menyingsing di Cilegon ketika sepasukan dengan cadar putih berderap menuju gardu di pasar Jombang. Pasukan ini dipimpin oleh Kyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman. Pasukan inilah yang menyerbu rumah Dumas beberapa jam sebelumnya.

Di saat bersamaan, dari pelbagai penjuru muncul pasukan lain menuju tempat itu. Sebagian dari mereka ada yang bertangan kosong, sebagian yang lain menghunus senjata. Tak lama kemudian, pasukan dengan jumlah yang jauh lebih besar datang dari arah Bojonegoro.

Akhirnya seluruh pasukan bertemu di gardu Pasar Jombang Wetan. Mereka terus berteriak, “Allahhu Akbar!!! Allahhu Akbar!!! Allahhu Akbar!!!”

Dalam pasukan itu nampak para ulama berdiri di sana. Haji wasid, Haji Usman. Haji Abdulgani, Haji Nasiman ada di situ juga Lurah Jasin. Tiba-tiba, Haji Wasid yang menjadi pimpinan utama pasukan itu berdiri menghadap pasukan. Ia memerintahkan untuk menyerbu penjara dan membebaskan semua tahanan, menyerang kepatihan, dan menyerang rumah Asisten Residen. Perintah itu disambut dengan gemuruh teriakan Allahhu Akbar oleh segenap pasukan.

***
Para pejabat pamongpraja dan keluarga mereka ketakutan. Mereka berusaha menyelematkan diri dengan caranya masing-masing. Jaksa dan istrinya bersembunyi di rumah Ajun Kolektor. Dari dalam rumah mereka mendengar derap pasukan yang dipimpin Lurah Jasin menuju ke tempat persembunyian mereka. Istri jaksa segera melarikan diri dan bersembunyi du rumah kosong di Kampung Baru. Sedangkan istri ajun Kolektor menyelamatkan diri ke rumah Iyas, tetangganya. Para perempuan ketakutan dan memilih menyelematkan diri.

Hanya tiga lelaki masih bertahan di sana. Ajun Kolektor dan anaknya, kartadiningrat serta Jaksa. Benar, pasukan itu datang dan segera mengobrak-abrik seisi rumah. Jaksa dan Ajun Kolektor tewas. Kartadiningrat dengan kemampuan silatnya berhasil memperdayai beberapa anggota pasukan. Tapi jurus silatnya tak mampu memandingi lawannya yang terlalu banyak. Ia pun mati.

***
Setelah mendengar ada pertumpahan darah di Cilegon, istri Asisten Residen, Gubbels berlari menuju penjara. Ia hendak menyelematkan diri di situ bersama dengan Wedana dan dua orang opas. Istri Gubels lupa mengajak anaknya. Ia lantas menyuruh dua opas itu menjemput anaknya. Tapi dua opas itu urung menjemput, pasukan Kyai Tubagus Ismail memblokade jalan menuju rumah Asisten Residen.

Istri Gubbels tak sempat menyaksikan kejadian ketika pasukan Tubagus Ismail mendatangi rumahnya. Ia sendiri sedang menyelematkan diri bersama Wedana dan Kepala Penjara. Mereka meloloskan diri dengan tangga bambu untuk melewati tembok penjara sebelum pasukan Lurah Jasin mendobrak pintu dan membebaskan dua puluh tahanan. Istri Gubells tak sempat mengetahui ketika Abusamad, opas di rumah Assisten Residen, yang pertama melihat pasukan bergerak menuju rumahnya. Ia tak tahu jika saat itu Abussomad segera memerintahkan para babu untuk bersembunyi di kamar belakang rumah. Ia sendiri, menyelematkan diri dengan melompat pagar belakang rumah.

Sementara dua babu, seorang jongos, istri tukang masak, istri penjaga kandang kuda, dua anak perempuan Gubbels, Elly dan Dora bersembunyi di kamar dekat istal. Hanya Kalpiah, istri si juru masak yang tak sempat bersembunyi di kamar dekat istal ketika pasukan itu datang.

Suasana senyap ketika pasukan Tubagus Ismail memasuki rumah itu. Tapi tiba-tiba tangis ketakutan anak-anak, entah Elly atau Dora, meledak. Anggota pasukan Tubagus mendengar. Pasukan itu lantas mendobrak kamar persembunyian itu. Ketika pintu terbuka, Elly segera berlari ke kebun. Sementara Dora berlari mengikuti para pembantunya.
Kalpiah tertangkap oleh pasukan. Ia selamat. Pasukan tak membunuhnya. Hanya saja, sebelum dibebaskan ia sempat diminta mengucapkan kalimat syahadat. Kalpiah pun pergi meninggalkan rumah majikannya. Dia lari menuju Anyer. Di tengah jalan ia berjumpa dengan majikannya, Gubbels si Assisten Residen. Ia bercerita kepada majikannya bahwa kepala Elly pecah ditimpuk batu besar, sedangkan Dora dan pembantu yang lain tubuhnya dicincang oleh pasukan.

Kalpiah meminta Gubbels untuk tak ke Cilegon. Tapi Gubbels yang mendengar anaknya mati dan istrinya tak ketahuan nasibnya tetap bersikeras ke Cilegon. Ia merasa dirinya tak lagi berguna sebab kedua anak gadisnya mati. Maka ia segera memerintahkan anak buahnya mengganti kuda. Ia perintahkan kusir memacu kuda secepat mungkin.

Di Kalentemu dokar Gubbels dicegat tiga puluh pemberontak yang telah memblokade jalan menuju Cilegon. Tapi dokar tak berhenti. Kusir justru mempercepat laju kuda. Ia menerobos para pemberontak. Para pemberontak meloncat ke bahu jalan. Mengetahui bahwa penumpang dokar itu Gubbels si Assisten Residen yang kejam, para pemberontak segera balik menyerang. Seekor kuda penarik dokar ditusuk dengan tombak. Para pemberontak terus menyerang. Gubbels tak sempat menghindar ketika ujung tombak seorang pemberontak menusuk dadanya. Para pemberontak tak mengejar. Mereka membiarkan Gubbels menahan sakitnya menuju Cilegon.

Sekitar pukul sepuluh dokar yang ditumpangi Gubbels sampai di alun-alun Cilegon. Kusir dokar menghentikan laju kuda. Mayat-mayat bergelimpangan, merintangi laju dokar. Dokar tak bisa berjalan menuju rumah Assisten Residen. Di halaman rumahnya, Gubbels menyaksikan pasukan pemberontak dalam jumlah yang besar. Ia akhirnya turun dan lari menuju Kepatihan. Pasukan pemberontak melihatnya. Gubbels lari memasuki kamar depan Kepatihan. Haji Jahli segera melepaskan tembakan pistolnya. Gubbels melompat dari kamar dan merebut pistol itu. Pistol itu berhasil ia rebut. Para pemberontak yang tak bersenjata api berpencar mengepung Gubbels. Gubbels kalap. Ia menantang para pemberontak. Para pemberontak itu mundur meninggalkan Kepatihan. Gubbels lolos dari maut. Pasukan pemberontak akhirnya merebut dokar Gubbels mereka berniat mengambil senjata. Di saat bersamaan pasukan pemberontak yang lain bersiap menyerang Serang. Cilegon seolah mati.

Siang itu Gubbels duduk sendirian di serambi depan Kepatihan dengan pistol di tangannya. Istri Dumas tiba-tiba datang, setelah ia mengira prahara di Cilegon telah berlalu. Ia berniat mencari anaknya yang sembunyi di situ. Gubbels yang mengetahui kedatangan istri Dumas segera memintanya membawakan segelas air putih. Gubbels segera berbaring di kamar kepatihan dengan pistol di tangannya. Melihat Gubbels istrirahat, istri Dumas berniat keluar dari kamar itu. Tapi Gubbels melarangnya. Ia takut ditinggal sendiri. Istri Dumas akhirnya bersembunyi di kamar lain dengan pintu utama Kepatihan mereka palangi dengan meja.

Pukul setengah tiga sore, pasukan pemberontak tiba di Kepatihan. Mereka langsung memberondong rumah itu dengan senapan. Sekelompom lain dari mereka mendobrak pintu utama. Pintu jebol, mereka segera menuju persembunyian Gubbels. Kembali mereka menghadapi pintu yang terkunci. Tapi akhirnya pintu berhasil didobrak. Gubbels tertangkap. Di kamar lain, istri Dumas mendengar jeritan kesakitan Gubbels. Namun beberapa saat keadaan berubah, para pemberontak berteriak-teriak kegirangan. Dari kamar itu, istri Dumas mengintip, ia melihat mayat Gubbels diseret ke halaman. Asssisten Residen yang menjadi alat kolonial itu sudah mati.

Bagaimana nasib Dumas?

Kyai Haji Tubagus Ismail dan pasukannya mendatangi rumah Tan Keng Hok. Dari luar rumah, Tan Keng Hok diancam akan dibunuh. Ia ketakutan dan akhirnya melarikan diri. Ketika sedang melarikan diri ia masih sempat mendengar lolongan Dumas yang minta ampun. Beberapa suara tembakan ia dengar. Setelah itu senyap. Ia tak lagi mendengar lolongan Dumas yang beberapa jam sebelum tembakan itu berada di rumahnya. Ia hanya mendengar dengus nafasnya sendiri dan desauan angin di sawah itu.

Judul : Pemberontakan Petani Banten 1888
Pengarang : Sartono Kartodirdjo
Penerbit : Pustaka Jaya, Jakarta
Terbit : I 1984
Tebal : xi + 509 hlm.






Selanjutnya....

24 July 2007

Prahara Paris van Java



Sekali peristiwa di Bandung, sehari sebelum kudeta, pagi 22 Januari 1950 Westerling bercakap-cakap sambil minum-minum di Hotel Preanger dengan kenalannya. Malam hari, ia bersama istrinya makan malam di hotel itu juga. Hari itu Paris van Java tenang, tak seorang pun menduga bakal terjadi prahara.

Pada pukul 21.00, Westerling mengendarai mobil menuju Padalarang. Di sana, ia menunggu kiriman senjata yang akan dibagikan kepada anak buahnya. Sesuai rencana, pagi hari 23 Januari 1950, ia akan menyerang dua kota penting di Jawa: Bandung dan Jakarta. Strategi ini disesuaikan dengan geopolitik Bandung. Bandung adalah penyangga Jakarta, sekaligus ibukota Negara Pasundan yang dipimpin Kartalegawa. Sedangkan Jakarta adalah jantung kekuasaan Indonesia.

Subuh 23 Januari 1950, 800 Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)— 300 orang diantaranya merupakan tentara Belanda—bergerak menuju kota Bandung. Mereka mengendarai truk, sepeda motor, jeep dan ada yang jalan kaki. Sepanjang jalan, mereka melucuti polisi negara di Pos Cimindi, Cibeureum, dan Pabrik Mekaf. Sementara itu, 2 peleton APRA dengan mengendari truk menuju Jakarta.

Hari itu juga, jalan Bandung-Cimahi diblokir. Pos-pos polisi di sepanjang jalan menuju Bandung dilumpuhkan. Ketika sampai kota Bandung, masyarakat masih acuh pada tentara Belanda. Pemandangan itu biasa mereka saksikan. Tapi tiba-tiba mereka terkejut. Tentara Belanda menembak membabi buta di jalan Braga. Penduduk ketakutan, jalanan, toko-toko, dan rumah-rumah di Bandung menjadi sepi.

Di depan apotek Ratkamp di Jalan Braga, sebuah sedan ditahan dan penumpangnya di suruh turun. Penumpang tersebut anggota TNI, dia disuruh berdiri dan langsung ditembak. Sedangkan penduduk yang tertangkap dinaikkan ke truk. Di depan Hotel Pranger 3 anggota TNI ditembak. Di Jalan Merdeka, 10 anggota TNI tewas. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 anggota TNI mengalami nasib serupa. Di Kantor Staf Kwartier Divisi Siliwangi Oude Hospitelweg, 15 anggota TNI diserang tiba-tiba, beberapa tewas, sisanya lari. Akibat serangan di Kota Bandung itu, 60-79 anggota TNI dan 6 sipil tewas. (hlm. 81)

Kudeta tersebut akhirnya gagal. Senjata yang ditunggu Westerling tak datang. Tentara APRA di Jakarta yang siap menyerbu tak memegang senjata. Sedangkan Jendral Spoor, Pemimpin tertinggi tentara Belanda di Indonesia yang sebelumnya menyetujui kudeta tiba-tiba mengurungkan niatnya. Demikian juga dengan Sultan Hamid II yang sedianya membantu ternyata juga urung. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan masyarakat Jawa Barat yang berafiliasi padanya pun tak banyak memberi dukungan. Alhasil kudeta yang disiapkan Westerling berantakan.

Padahal sebelumnya, ia telah atur rencana. Ia himpun kekuatan dengan memanfaatkan wacana mesianistik yang berhasil menghipnotis rakyat Jawa Barat. Di perdesaan Jawa Barat ia berhasil mendirikan organisasi yang berafiliasi kepada gerakan Ratu Adil. Bahkan ia berhasil menjalin kerjasama bawah tanah dengan Pemimpin DI/TII, Kartosuwiryo, pengusaha Indo-Belanda dan Cina, Sultan Hamid II, serta Walinegara Pasundan, Kartalegawa.

Mengetahui kudeta ini, Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta berang. Hatta menuding Belanda melanggar pengakuan kedaulatan yang ditandatangani 27 Desember 1949. Untuk itu, Hatta segera memerintahkan menangkap dan menumpas gerakan Westerling. Demikian pula dengan Menteri Pertahanan RIS, Sultan Hamengkubuwono IX, yang menjadi target pembunuhan Westerling segera menginstruksikan untuk melumpuhkan APRA. Mengetahui kudetanya gagal, Westerling lari ke Singapura. Tapi sesampainya di negeri itu, ia ditangkap kepolisian Singapura.

Pemerintahan RIS meminta Westerling diekstradisi ke Indonesia dan akan diadili sesuai peradilan Indonesia tapi pemerintah Belanda menolak. Westerling, yang menewaskan kurang lebih 40 ribu nyawa penduduk Sulawesi Selatan dan otak kudeta itu, oleh pengadilan Belanda divonis dua tahun penjara. Ia juga bebas dari dakwaan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional di den Haag, Belanda, sampai ia mati pada 26 November 1987.

Prahara di Paris van Java yang dilakukan Raymond Westerling meninggalkan luka dalam sejarah Indonesia. Indonesia baru saja mendapat pengakuan de jure dari Belanda. Indonesia juga dihadapkan pada bentuk negara federasi berupa Republik Indonesia Serikat. Bentuk negara seperti ini dinilai para founding fathers sebagai strategi Belanda untuk memecah belah bangsa. Pendek kata, di saat Indonesia tertatih-tatih mestabilitasikan politik dan ekonomi, Westerling dan bekas tentara Belanda malah menikam dari belakang.

Jejak kelam Westerling ini sepantasnya dibaca masyarakat Jawa Barat dan Indonesia. Dengan membaca buku ini pula pembaca akan terangsang untuk mengetahui lebih lanjut prahara di Paris Van Java. Apalagi Petrik Matanasi dalam karyanya ini sama sekali belum menyingkap oral history dari para pelaku dan saksi yang masih hidujp. Sumber dari oral history ini penting, agar rekonstruksi sejarah prahara di Paris van Java pada 23 januari 1950 semakin lengkap.

Judul: Westerling,Kudeta yang Gagal
Pengarang: Petrik Matanasi
Penerbit: Media Presindo, Jogjakarta
Cetakan: Juli 2007
Tebal: 126 hlm.

Selanjutnya....

pelanggan

Loading...